Asiaaudiovisualexc09rinahutajulu's Blog

July 3, 2009

Pepaya

Filed under: Uncategorized — Tags: — exc09rinahutajulu @ 4:31 am

1340277_papayaagisfarmPepaya (carica papaya) merupakan tumbuhan yang berbatang tegak dan basah. Pepaya menyerupai palma, bunganya berwarna putih dan buahnya yang masak berwarna kuning kemerahan, rasanya seperti buah melon. Tinggi pohon pepaya dapat mencapai 8 sampai 10 meter dengan akar yang kuat. Helaian daunnya menyerupai telapak tangan manusia. Apabila daun pepaya tersebut dilipat menjadi dua bagian persis di tengah, akan nampak bahwa daun pepaya tersebut simetris. Rongga dalam pada buah pepaya berbentuk bintang apabila penampang buahnya dipoting melintang. Tanaman ini juga dibudidayakan di kebun-kebun luas karena buahnya yang segar dan bergizi.

Pemanfaatan:

1. Batu Ginjal (niersteen = Belanda) Bahan: 7 lembar daun pepaya Cara membuat dan menggunakan : Memakai formula 3-5-7 plus, artinya : – Hari Pertama, 3 lembar daun pepaya yang masih segar direbus dengan air secukupnya, kemudian air rebusan daun pepaya tersebut diminum 1 gelas sekaligus. – Hari Kedua, 5 lembar daun pepaya yang masih segar direbus dengan air secukupnya, kemudian air rebusan daun pepaya tersebut diminum 1 gelas sekaligus. – Hari Ketiga, 7 lembar daun pepaya yang masih segar direbus dengan air secukupnya, kemudian air rebusan daun pepaya tersebut diminum 1 gelas sekaligus. – Untuk menutupnya ditambah dengan minum air kelapa muda (degan=Jawa), yang dipilih dari buah kelapa hijau. Catatan : bagi yang mengidap hipertensi tidak boleh minum resep ini. 2. Hipertensi (tekanan darah tinggi) a. Bahan: 2 potong akar pepaya Cara membuat: direbus dengan 1 liter air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, kemudian disaring; Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari 1 cangkir b. Bahan: 7 lembar daun atau bunga tapakdara Cara membuat: diseduh dengan 1 gelas air dan dibiarkan beberapa saat dan disaring Cara menggunakan: diminum menjelang tidur. 3. Malaria Bahan: 1 lembar daun pepaya, tempe busuk sebesar ibu jari, garam secukupnya. Cara membuat: semua bahan tersebut ditumbuk halus, kemudian diperas dan disaring untuk diambil airnya. Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari selama 7 hari berturut- turut. 4. Sakit Keputihan Bahan: 1 lembar daun pepaya, 1 potong akar rumput alang-alang, adas pulosari secukupnya. Cara membuat: daun pepaya dicincang halus, kemudian direbus bersama bahan lainnya dengan 1,5 liter air sampai mendidih dan disaring Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari 1 gelas dan dilakukan secara teratur. 5. Kekurangan ASI Bahan: buah pepaya yang masih hijau (muda) tanpa dikuliti. Cara membuat: buah pepaya tersebut dibelah menjadi 2 bagian, sebagian direbus dengan air dan sebagian yang lain menggunakan cuka. Cara menggunakan: air rebusan tersebut diminum 2-3 sendok teh sehari dan dilakukan secara teratur. 6. Reumatik a. Bahan: buah pepaya, 2 butir telur ayam kampung; Cara membuat: buah pepaya dipotong penampangnya kemudian telur dimasukkan dalam pepaya melalui lubang yang telah dibuat dengan memotong penampang tadi, ditutup kembali rapat-rapat dan dibakar hingga telur yang ada di dalamnya masak Cara menggunakan: telur yang sudah masak tersebut dimakan pagi dan sore b. Bahan: 2 potong akar pepaya, 1 lembar daun pepaya; Cara membuat : kedua bahan tersebut ditumbuk halus, kemudian direbus dengan 1 liter air sampai mendidih dan disaring. Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari 1 gelas pada sore hari. 7. Malnutrisi (gejala kekurangan salah satu zat makanan pada balita) a. Bahan: 2 lembar daun pepaya, 3 tangkai daun dadap serep, kapur sirih secukupnya. Cara membuat: semua bahan tersebut ditumbuk bersama sampai halus. Cara menggunakan: dipergunakan sebagai bedak dan dioleskan pada perut balita yang sakit. b. Bahan: 1 lembar daun pepaya Cara membuat: direbus dengan 1,5 gelas air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya Cara menggunakan: diminumkan pada balita 2 sendok makan setiap hari. 8. Gangguan saluran kencing Bahan: 3 potong akar pepaya Cara membuat: direbus dengan 1 liter air air sampai mendidih, kemudian disaring. Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari 0,5 gelas. 9. Haid berlebihan Bahan: buah pepaya yang masih hijau (muda) Cara membuat: direbus dengan air sampai masak. Cara menggunakan: dimakan dagingnya. 10. Sakit perut pada waktu haid Bahan: 1 lembar daun pepaya, buah asam dan garam secuk

Pinang

Filed under: Herbal Medicine — Tags: — exc09rinahutajulu @ 4:17 am

pinang-betelnutPinang umumnya ditanam di pekarangan, di taman-taman atau dibudidayakan, kadang tumbuh liar di tepi sungai dan tempat-tempat lain. Buahnya buah buni, bulat telur sungsang memanjang, panjang 3,5-7 cm, dinding buah berserabut, bila masak warnanya merah oranye. Biji satu, bentuknya seperti kerucut pendek dengan ujung membulat, pangkal agak datar dengan suatu lekukan dangkal, panjang 15-30 mm, permukaan luar berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk menyerupai jala dengan warna yang lebih muda. Umbutnya dimakan sebagai lalab atau acar, sedang buahnya merupakan salah satu ramuan untuk makan sirih, dan merupakan tanaman penghasil zat samak. Pelepah daun yang bahasa Sundanya disebut upih, digunakan untuk pembungkus makanan, bahan campuran untuk pembuatan topi, dsbnya.

BAGIAN YANG DIPAKAI: Biji, daun, sabut. KEGUNAAN: Biji (Binglang): – Cacingan: taeniasis, fasciolopsiasis. – Perut kembung akibat gangguan pencernaan. – Bengkak karena retensi cairan (edema). – Rasa penuh di dada. – Luka. – Batuk berdahak. – Diare. – Terlambat haid, Keputihan. – Beri-beri, edema. Malaria. – Memperkecil pupil mata (miosis) pada glaucoma. Daun: – Tidak napsu makan. – Sakit pinggang (lumbago). Sabut: – Gangguan pencernaan (dyspepsia). – Sembelit. – Edema dan beri-beri. PEMAKAIAN: Untuk minum: 5-10 g biji kering atau 5-10 g sabut, rebus. Pemakaian luar : Biji secukupnya direbus, airnya untuk mencuci luka dan infeksi kulit lainnya. CARA PEMAKAIAN: 1. Cacingan: 30 g serbuk biji pinang direbus dengan 2 gelas air, didihkan perlahan-lahan seiama 1 jam. Setelah dingin disaring, minum sekaligus sebelum makan pagi. 2. Luka: Biji ditumbuk halus, untuk dipakai pada luka. 3. Kudis: Biji pinang digiling halus, tambahkan sedikit air kapur sirih sampai menjadi adonan seperti bubur. Dipakai untuk memoles bagian tubuh yang kudis. 4. Koreng: Pinang, gambir, kapur sirih masing-masing sebesar telur cecak, tembakau sebesar ibu jari dan 1 lembar daun sirih segar. Bahan-bahan tersebut dicampur ialu digiling halus. Lumurkan pada koreng yang telah dibersihkan. 5. Disentri: Buah pinang yang warnanya kuning muda dicuci lalu direndam dalam 1 gelas air selama beberapa jam. Minum air rendaman pinang. 6. Membersihkan dan memperkuat gigi dan gusi: Biji pinang diiris tipis-tipis. Kunyah setiap hari selama beberapa menit, lalu ampasnya dibuang. 7. Sakit pinggang: Daun secukupnya dicuci bersih, lalu digiling halus. Tambahkan minyak kelapa secukupnya, panaskan sebentar di atas api. Hangat- hangat dipakai untuk mengompres bagian pinggang yang sakit. 8. Difteri: 1 butir biji pinang kering digiling halus, seduh dengan 3/4 cangkir air panas dan 1 sendok makan madu. Setelah dingin dipakai untuk kumur-kumur di tenggorokan selama 2-3 menit, lalu dibuang. Lakukan 3 kali sehari. Efek samping: Senyawa alkaloid yang dikandung pada buah cukup berbahaya untuk sistem syarat. Yang umum terjadi adalah mual dan muntah (20-30%), sakit perut, pening dan nervous. Untuk mengurangi kejadian muntah, minumlah rebusan obat setelah dingin. Efek samping yang jarang terjadi adalah luka pada lambung yang disertai muntah darah. Tanda-tanda kelebihan dosis: Banyak keluar air liur (qalivation), muntah, mengantuk dan seizure. Pengobalan: Cuci lambung dengan larutan potassium permanganate dan injeksi atropine. Untuk mengurangi efek racunnya, pemakaian biji pinang sebaiknya yang telah dikeringkan, atau lebih baik lagi bila biji pinang kering direbus dahulu sebelum diminum. Kebiasaan mengunyah biji pinang, dapat meningkatkan kejadian kanker-mukosa pipi (buccal cancer).

Pare

Filed under: Herbal Medicine — Tags: — exc09rinahutajulu @ 4:01 am

buah-pare_1Pare banyak terdapat di daerah tropika, tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tegalan, dibudidayakan atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar, untuk diambil buahnya. Tanaman ini tidak memerlukan banyak sinar matahari, sehingga dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang agak terlindung.

Daun dari pare yang tumbuh liar, dinamakan daun tundung. Daun ini dikatakan lebih berkhasiat bila digunakan untuk pengobatan. Daun dan buahnya yang masih muda dimakan sebagai lalab mentah atau setelah dikukus terlebih dahulu, dimasak sebagai sayuran, tumis, sambal goreng, gado-gado, dan sebagainya. Tanaman ini juga dapat digunakan untuk membunuh serangga. 

Pemanfaatan:

BAGIAN YANG DIPAKAI: Buah, biji, bunga, daun dan akar. KEGUNAAN: Buah: – Batuk, radang tenggorok (pharyngitis). – Haus karena panas dalam. – Mata sakit dan merah. – Demam, malaria. – Pingsan karena udara panas (heatstroke). – Menambah napsu makan. – kencing manis. – Disentri. – Rheumatism, rematik gout. – Memperbanyak air susu (ASI). – Datang haid sakit (dismenorrhoea). – Sariawan. – lnfeksi cacing gelang. Bunga: – Pencernaan terganggu Daun: – Cacingan. – Luka, abses, bisul. – Erysipelas. – Terlambat haid. – Sembelit, menambah napsu makan. – Sakit lever. – Demam. – Melancarkan pengeluaran ASI. – Sifilis, kencing nanah (Gonorrhea). – Menyuburkan rambut pada anak balita. Akar: – Disentri amuba. – Wasir. Biji: – Cacingan. – Impotensi, – Kanker. PEMAKAIAN: Untuk minum: 15-30 g di juice atau di rebus. Pemakaian luar. Buah atau daun secukupnya digiling halus, untuk pemakaian setempat pada luka bakar, bisul, abses, eksim, digigit serangga, biang keringat (miliaria), melancarkan pengeluaran ASI, dan sebagainya. CARA PEMAKAIAN: 1. Haus karena panas dalam, demam, heat stroke: Satu buah pare mentah yang masih segar dicuci bersih, lalu dibelah. Buang isinya, potong-potong secukupnya, lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum. 2. Diabetes: a. 200 g buah pare segar dicuci bersih lalu diblender. Tambahkan air minum secukupnya, lalu diperas dengan sepotong kain sampai terkumpul sebanyak 50 ml (seperempat gelas). Perasan dihangatkan dengan api kecil selama 15-30 menit. Setelah dingin diminum, lakukan setiap hari. b. 200 g buah pare dicuci bersih lalu diiris tipis-tipis. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum, Lakukan setiap hari. 3. Disentri. Buah pare segar dicuci lalu dibelah, isinya dibuang. Parut atau dijuice, airnya diminum. Segera minum air matang. Satu kali minum 200 cc. 4. Disentri amuba, diare: Ambil akar pare yang masih segar sebanyak 30 g. Dicuci bersih lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, tambahkan gula pasir secukupnya lalu diminum. 5. Cacingan pada anak: a. Daun segar sebanyak 7 g, diseduh dengan 1/2 cangkir air panas. Setelah dingin disaring, tambahkan 1 sendok teh madu. Aduk sampai merata, minum sekaligus sebelum makan pagi. b. Ambil dua sampai tiga biji pare. Giling sampai halus, aduk dengan sedikit air masak. Minum, disusul dengan minum air hangat. Ramuan ini untuk pengobatan infeksi cacing gelang. 6. Menyuburkan rambut yang tipis dan kemerahan: a. Ambil segenggam daun pare, cuci bersih. Daun kemudian ditumbuk sampai seperti bubur, tambahkan air 3/4 gelas. Ramuan ini kemudian diembunkan semalaman. Pagi-pagi ramuan ini disaring, airnya dipakai untuk membasuh kulit kepala. b. Ambil daun pare yang masih segar secukupnya, lalu dicuci bersih. Daun pare tadi ditumbuk sampai halus, lalu diperas dengan sepotong kain. Airnya dipakai untuk melumas kulit kepala. Lakukan setiap hari. Ramuan ini terutama digunakan untuk bayi dan anak balita. 7. Bisul, abses: Ambil segenggam daun pare, cuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum. 8. Demam, malaria, sakit lever, sembelit, cacingan: Segenggam penuh daun pare dicuci bersih, lalu ditumbuk halus. Tambahkan 1 cangkir air matang, diaduk merata lalu disaring. Air saringannya ditambahkan sedikit garam, lalu diminum pada pagi hari sebelum makan. 9. Kencing nanah: 6 lembar daun pare, 2 jari akar jayanti, 2 jari kulit kemboja, 1 jari rimpang temulawak, 3 jari gula enau, dicuci dan dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 4 gelas

June 23, 2009

Putri Malu: Tanpa Malu Mengatasi Insomnia

Filed under: Herbal Medicine — Tags: — exc09rinahutajulu @ 2:36 am

DSC01123

Masih ingat dengan keisengan menyentuh Putri Malu yang biasa tumbuh liar di pinggir jalan? Daun-daunnya yang kecil dan tersusun majemuk akan menguatup bila ada yang menyentuhnya. Tapi siapa sangka tanaman super sensitif ini ternyata bisa juga dijadikan obat. Daun dan akarnya yang segar bila dikeringkan mampu mengobati insomnia, radang saluran nafas (bronchitis), panas tinggi pada anak-anak, herpes (radang kulit karena virus), cacingan (ascariasis)  sampai rheumatik.

Untuk pengobatan luar, seperti luka, radang kulit bemanah (piodermi) dan herpes, Putri Malu yang segar dilumatkan lalu ditempelkan di tempat yang sakit. Khusus pengobatan dalam, Putri malu harus dipadukan dengan ramuan lainnya sebelum diminum. Berikut resepnya:

 1. Insomnia – rebus Putri Malu (15 – 60 gram), daun mimosa pudica (30 – 60 gr). Atau, dicampur dengan Mimosa pudica (15 gr), sawi langit (15 gr), dan calincing (30 gr). 

2. Chronic bronchitis – rebus Putri Malu (15 – 60 gram), akar minosa pudica 60 gr dan air (600 cc). Untuk merebus nyalakan api kecil hingga rebusan berkurang ke takaran 200 cc. Diminum 2 x sehari (@100 cc) selama 10 hari.

3. Batuk dengan dahak banyak cukup merebus akar putri malu  segar (10 – 15 gr).

4. Ascariasis: rebus Putri Malu (15 – 60 gram) dan mimosa pudica (15 – 30 gr).

5. Rheumatik: rendam Putri Malu (15 – 60 gram) dan akar Mimosa pudica (15 gr) dalam arak putih (500 cc) selama 2 minggu.

Putri Malu sangat tidak disarankan untuk wanita hamil.

http://www.iptek.net.id

June 22, 2009

Pacar Cina

Filed under: Herbal Medicine — Tags: — exc09rinahutajulu @ 5:13 am

IMG_2051Orang Sunda menyebutnya Culan. Pacar cina sering ditanam di kebun dan pekarangan sebagai tanaman hias, atau tumbuh liar di ladang-ladang yang cukup mendapat sinar matahari. Tumbuhan ini didatangkan dari Cina. Bunganya sering digunakan untuk mengharumkan teh atau pakaian. Perdu, tinggi 2 – 6 m, batang berkayu, bercabang banyak, tangkai berbintik-bintik kelenjar berwarna hitam. Daun majemuk menyirip ganjil yang tumbuh berseling, anak daun 3 – 5. Anak daun bertangkai pendek, bentuk bundar telur sungsang, panjang 3-6 cm, lebar 1 – 3,5 cm, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, permukaan licin mengilap terutama daun muda. Bunga dalam malai rapat, panjangnya.5 – 16 cm, warna kuning, dan harum. Buah buni, bulat lonjong, warnanya merah, panjang 6 – 7 mm, dengan ruang 1 – 3, biji 1 – 3. Perbanyakan melalui cangkok. 

Berkhasiat mengobati perut kembung, batuk, pusing, mempercepat persalinan, memar, bisul, darah haid banyak, bau badan, diare dan sukar menelan. Bagian dari pacar cina yang dimanfaatkan adalah bunga, daun, batang, dan ranting. Tiap bagian ini memiliki indikasinya sendiri, seperti bunga untuk perut kembung, sukar menelan, batuk, pusing, serta mempercepat persalinan dan daun untuk mengobati memar, bisul, darah haid banyak, bau badan dan diare.

Cara pemakaiannya,  daun, bunga atau ranting sebanyak 5-15 g direbus, lalu diminum. Untuk pemakaian luar, batang, ranting atau daun digiling halus lalu dibubuhkan ke tempat yang sakit.

Contoh pemakaian sesuai dengan kasus kesehatannya adalah sebagai berikut :

1. Darah haid banyak : Daun pacar cina segar sebanyak 1 genggam penuh dicuci bersih lalu direbus dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring dan diminum. Sehari 2 kali, masing-masing 1/2 gelas.

2. Bau badan : Daun pacar cina segar sebanyak 10 g dan daun sirih segar sebanyak 7 lembar dicuci lalu direbus dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring. Kemudian minum sehari 2 kali, pagi dan sore, masing-masing 1/2 gelas.

Catatan: Perempuan hamil dilarang minum.

http://www.iptek.net.id

Create a free website or blog at WordPress.com.